September 19, 2009

Love Letter

"Were you there..till the very end?"
*nods*
...
"Tell me how he died"
"No, let me... tell you how he lived"
- The Last Samurai

.
.
.

i love this man

love his name
his benevolent aura
his gentle and kind character
i cried when he 'left'
could almost felt the salty tears of the sahaba
of Aisyah, of Fatimah
of Malaikat Jibril
the heart shooks and body trembles
the whole world weeps
till the end, his heart reaches out for the umat he left behind

and i thought 'that' was the most moving part of this wonderful person
but no...when i learn more
i also learned that love can 'grow'
every gestures
every smiles
every tears
you'd realized there's so much more to love about this man
so much more
...

my dear readers
this is a love letter he left
for me..
and for you


Al-kisah sebuah pertemuan baginda dengan sahabat-sahabatnya:

Di saat mana Rasulullah mengatakan dia merindui saudara-saudaranya, suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.

Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.
"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?"
Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.

"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),"
suara Rasulullah bernada rendah.

"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,"
kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian baginda bersuara:

"Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."


Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ‘ikhwan’ baginda:

"Siapakah yang paling ajaib imannya?" tanya Rasulullah.

"Malaikat," jawab sahabat.
"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.

Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, " Para nabi."
"Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."

"Mungkin kami," celah seorang sahabat.
"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada ditengah-tengah kau," pintas
Rasulullah menyangkal hujah sahabatnya itu.

"Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang lebih mengetahui," jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.

"Kalau kamu ingin tahu siapa mereka?

Mereka ialah umatku yang hidup selepasku.
Mereka membaca Al Quran
dan beriman dengan semua isinya.
Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku.
Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku
,"
jelas Rasulullah.

"Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,"
ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.

Begitulah nilaian Tuhan. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan buktikan dengan kesungguhan beramal dengan Sunnahnya.

O Rasulullah SAW


Have never seen you
but i love you =')

- - -

No comments:

Post a Comment